Penculikan terselubung

[Warning!! = Believe me it’s not worthed to read ]

Sebenarnya kejadiannya sudah lama, namun rasa malas yang besar mampu mengalahkan keinginan untuk menulis. Kejadian ini terjadi pada hari sabtu tgl 6 September 2008 dipagi yang cerah. Setelah bangun dan siap untuk menonton film di komputer (kegiatan yang menjadi candu), telepon selulerku berbunyi. Kulihat nama yang muncul di layar “alex”, ia adalah sepupuku yang sedang menjalani pendidikan di Bogor. Teleponnya itu berisi permintaan untuk menemaninya menemui Paktua dan Maktua (panggilan Batak Karo untuk paman dan bibi yang lebih tua dari orangtuaku.red) di Puncak. Setelah menentukan waktu dan tempat pertemuan aku melanjutkan niatku untuk menonton “Meet Dave”.

Tepat pukul 14.00 wib aku menuju tempat yang sudah ditentukan. Setelah bertemu kami bersama-sama menuju Baranang siang untuk kemudian naik mobil yang menuju Cianjur. Kami tidak naik ankot Cisarua karena tempat menginap Paktua dan Maktua cukup jauh lewat dari puncak. Setelah sampai di depan Botani Square kami turun dari angkot dan bertanya kepada “calo” yang ada di sana. Setelah mengetahui mobil mana yang harus kami tumpangi kami pilih untuk duduk di bangku paling belakang. Ini adalah kali kedua saya untuk naik mobil ke Cianjur hal itu membuat ragu apakah mobil ini melewati tujuan kami. Saat supir berjalan ke arah belakang mobil, sepupuku menanyakan kembali apakah mobil ini melewati penginapan orangtuanya. Setelah cukup yakin dengan jawaban pak supir kami duduk dengan tenang samil menunggu waktu keberangkatan.

Mobil angkutan ke Cianjur hanya jalan jika penumpang di dalam sudah “cukup”, dan jumlah cukup itu ternyata 14 orang dewasa dan 1 anak kecil tanpa kondektur dan supir. Jika melihat kondisi ini rasanya saya ingin cepat sampai tujuan, dan kelihatannya doa saya terkabul karena dari gerak gerik supirnya terlihat bahwa dia akan melewati semua mobil yang ada di depannya. Pada awal masuk pintu tol Jagorawi kendaraan melaju dengan sekuat tenaga, dengan manuver yang apik pak supir membawa kami sampai 100 meter sebelum pintu tol. Secara tiba tiba kejadian aneh terjadi. Mobil tidak dapat di gas pol, sedikit saja gas dinaikkan maka mobil akan berjalan dengan tersendat sendat. Saya tidak begitu mengerti tentang mobil, namun sepupu saya bilang hal tersebut karena saringan bensin yang tidak bersih sehingga mesin tidak bekerja dengan baik. Berjalan tersendat sendat itu harus dilalui sampai keluar pintu tol.

Setelah keluar dari pintu tol mobil menepi dan pak Sopir mencoba melihat kondisi mobilnya. Karena saya di belakang cukup terjepit maka saya tidak bisa mengamati secara langsung pekerjaan pak supir dan kondekturnya. Namun saya mencium bau bensin, mungkin apa yang di katakan sepupu saya benar. Setelah dibersihkan, mobil terlihat cukup membaik.. fyuh.. saya tidak bisa membayangkan kalo kejadian di jalan tol terjadi pada tanjakan di Puncak apalagi ditambah dengan kemacetan yang mungkin terjadi, mengingat hari ini adalah weekend.

Memasuki kawasan bawah puncak, hawa dingin mulai terasa. Sangat berbeda dengan suasana yang sehari hari saya rasakan. Meskipun di daerah ini sudah banyak pemukiman dan kendaraan berlalu lalang namun suasana dinginnya tetap menyejukkan. Saya jadi tidak sabar untuk merasakan suasana yang lebih indah di atas nanti. Namun tampaknya saya harus menunggu lama karena kendaraannya mengalami kembali masalah yang sama. Saya tidak tahu apakah saringan bensinnya kembali kotor, atau mungkin bensinnya dari awal sudah sangat kotor, yang pasti mobil berhenti di tempat tambal ban untuk mengisi angin dan melakukan hal yang saya tidak tahu.

Ternyata perhentian di bengkel tadi tidak membawa efek apapun, mobil tetap saya berjalan tersendat sendat. “Selamat menikmati perjalanan anak muda”. Di awal perjalanan mungkin aku dan sepupuku tertawa melihat mobil berjalan dengan “gaya” yang lucu. Namun tidak saat mobil sudah sampai pada jalanan yang selalu menanjak. Walaupun pemandangan di kanan dan kiri sangat menakjubkan, namun tidak terbersit di pikiranku untuk menikmatinya. Yang saya rasakan hanya rasa cemas akan apa yang mungkin saja terjadi. Saya was was jika ternyata saat di tanjakan mesin mobil tidak bekerja dengan baik , mesin mati, rem tidak mampu…..ah sudahlah. Saya mencoba mengalihkan rasa cemas dengan melihat penumpang yang lain. Diantara mereka terlihat bapak yang tertidur pulas, tampaknya beliau sudah terbiasa dengan suasana ini. Beruntung saya punya kebiasaan tidur jika naik kendaraan, dan alhasil saya sukses tidur melewati puncak puncak kekhawatiran.

Saya terbangun saat mobil sudah memasukin kawasan dengan jalan menurun. Pada keadaan jalan demikian mobil melaju dengan sekuat tenaga. Ternyata tidak pada tanjakan saja pak Sopir membuat saya was was, toh saat turunan pun demikian. Berhubung saya tidak mengetahu tempat pertemuan sepupuku dan orangtuanya, saya menyerahkan navigasi padanya. Setelah sampai tempat tujuan ternyata masih membutuhkan perjalanan yang cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Beruntung dengan insting pramuka yang ada kami melakukan cross country melalui per”ladang”an sebagai jalan pintas menuju tempat tujuan. “Ternyata mencari jalan pintas dalam permasalahan tidak selalu buruk”.

Senang sekali rasanya bertemu dengan Paktua dan Maktua, sebab sudah cukup lama rasanya tidak berjumpa dengan mereka. Mereka terlihat sehat dan bersemangat walaupun faktor usia terlihat mempengaruhi.

Sesampainya di sana kami di ajak ke kamar yang akan kami tempati… alamakkkk. Saya benar benar tidak mempersiapkan akan terjadi hal seperti ini. Sebab sepupuku bilang bahwa kami ke Puncak hanya untuk mengambil kendaraan dan kembali ke Bogor. Alhasil dengan kain yang ada di badan, saya menginap disana. Tidak terbayang bagaimana leceknya kaos yang dipakai berdesak desakakn di angkutan ke Cianjur plus di pakai guling guling di kasur. “ini namanya Penculikan Terselubung.”

Mereka menginap di puncak karena ada perntandingan olah raga antara komunitas para bapak dari gereja batak karo se-jakarta-Bandung. Namun namanya saja Jakarta-Bandung karena yang hadir ada juga yang berasal dari surabaya bahkan Sulawesi…yah apalah artinya sebuah nama. Karena itu adalah acara bapak bapak maka bagi anak muda seperti saya, acara tersebut cukup membosankan. Dan Pelarian yang baik adalah PLURK. He he he….

Penculikan terselubung

5 thoughts on “Penculikan terselubung

  1. dina says:

    untung aq gak ikut ya kemaren mungkin aq juga merasakan seperti itu….
    oh soal angkot cianjur memang kayak gitu dek bikin betein mendingan naik bus aja kalau ke puncak…aman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s